Tuesday, 3 May 2016

Ulama Syiah halalkan nyawa


Keluar fatwa kontroversi sokong rejim Bashar al-Assad
03 Mei 2016 12:07 AM


Ahmad Badr al-Hassoun

DAMSYIK 2 Mei - Seorang ulama pro-Syiah yang berpihak kepada tentera Syria mencetuskan kontroversi apabila mengeluarkan fatwa yang membenarkan penghapusan penduduk awam di bandar Aleppo, ketika tentera kerajaan melancarkan serangan habis-habisan untuk menawan semula bandar itu daripada kumpulan penentang.
Menurut portal Mail Online, fatwa itu dikeluarkan oleh ulama terkemuka Syria, Ahmad Badr al-Hassoun yang dilihat sebagai usaha untuk ‘menghalalkan’ keganasan yang dilakukan oleh tentera Syria di Aleppo sejak 10 hari lalu.
“Saya meminta tentera Syria dan pemimpin negara ini mempamerkan kekuatan bagi menghapuskan penjenayah terlibat,” kata Ahmad Badr.
Kenyataan beliau itu dipercayai merujuk kepada penduduk awam yang tinggal di kawasan timur bandar Aleppo yang dikuasai kumpulan penentang kerajaan Syria.
Sejak hampir 10 hari lalu, tentera negara ini telah melancarkan lebih 260 serangan udara, 18 peluru berpandu, 110 bedilan meriam dan menggugurkan 68 butir bom di Aleppo, menyebabkan lebih 250 terbunuh terma­suk 40 kanak-kanak.
Usaha untuk menghentikan serangan berdarah itu juga buntu apabila sekutu rapat Syria, Rusia menerusi Timbalan Menteri Luarnya, Gennady Gatilov menolak gesaan antarabangsa bagi menamatkan serangan di Aleppo.
“Moscow tidak akan menekan Bashar kerana situasi di Aleppo merupakan sebahagian daripada usaha memerangi pengganas,” katanya.
Sementara itu, beberapa pertubuhan bantuan antarabangsa memberi amaran terhadap situasi kemanusiaan yang semakin buruk di Aleppo disebabkan tiada misi kemanusiaan dijalankan di bandar tersebut, selain tindakan tentera Syria yang se­ngaja menyerang kumpulan yang menghantar bantuan. – AGENSI
- See more at: http://www.utusan.com.my/berita/luar-negara/ulama-syiah-halalkan-nyawa-1.307533#sthash.gxxspSmn.dpuf

Monday, 2 May 2016

Siapa Mengirim Pasukan Baret Hijau Iran ke Suriah?


Sementara Rusia sedang mengurangi kehadiran militernya di Suriah, Iran sedang mencoba meningkatkannya dengan mengirimkan pasukan khusus mereka sendiri.
Siapa Mengirim Pasukan Baret Hijau Iran ke Suriah?

AFP
Tentara Iran berbaris selama parade militer Perayaan Hari Angkatan Darat di Teheran pada 18 April 2014

Terkait

Hidayatullah.com–Pada awal bulan ini, Brigjen Ali Arasteh, Wakil Koordinator Komandan Angkatan Darat Iran, untuk pertama kalinya secara publik berbicara tentang operasi militer Iran terhadap IS di Suriah.
Dia mengatakan pada para wartawan Iran, “Brigade 65merupakan bagian dari pasukan darat kami dan kami mengirim tentara dari Brigade 65, sama seperti unit lainnya, sebagai penasihat ke Suriah. Pengiriman ini tidak sebatas komando atas Brigade 65, sebagai penasihat Brigade 65 sudah berada di sana.”
Dengan pengecualian dari perang 1980-1988 dengan Iraq, pasukan itu tidak melakukan operasi luar negeri sejak Revolusi Iran 1979. Hanya Quds Force, cabang operasi eksternal Komandan Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC), dan Brigade Fatehin, yang dibuat oleh sukarelawan Iran, telah menjadi penasihat dan melakukan operasi darat di Suriah dan Iraq.
Pasukan itu hanya bertanggung jawab untuk menjaga perbatasan Iran, hanya jika mendapat perintah dari panglima tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, mereka dapat ikut serta dalam misi luar negeri.
Brigade 65, yang juga dikenal dengan julukan Nohed, merupakan sebuah pasukan angkatan udara khusus, dan salah satu unit militer paling elit Iran. Mereka dibuat sebelum Revolusi Iran, dan mempunyai catatan sukses dalam perang dengan Iraq.
Inti aslinya dibuat pada tahun 1950an, ketika militer mengirim 10 pejabat senior ke Prancis. Pada tahun-tahun berikutnya, dua brigade baru bertanggung jawab dalam misi penyelamatan sandera, perang luar biasa, perang secara langsung dan sebagai dukungan dalam penambahan pasukan angkatan udara sementara Brigade 65 diciptakan.
Meningkatnya pelatihan disamping pengalaman bertarung yang sukses – seperti basis militer Manston Dhofar di Oman pada 1970an, dan bahkan dilaporkan di Perang Vietnam – membawa unit ini menjadi unit terbaik yang dimiliki Iran, disamping Imperial Guard, pada akhir era Pahlevi.
Partisipasi Brigade 65 dalam operasi di Oman merupakan tindakan resmi. Ini rupanya tidak seperti kasus di Vietnam; bagaimanapun juga, sebelum kematiannya, Jenderal Alireza Sanjabi berbagi pengalamannya dengan penulis ini tentang bagaimana dia telah beperan menjadi seorang penembak jitu di Vietnam.
Sanjani menambahkan, “Sebelum revolusi, kebanyakan dari latihan brigade ini telah selesai dalam pembentukan operasi bersama dengan SAS Inggris.”
Memang, kekuatan Brigade 65 meningkat tajam selama hari-hari awal dari Revolusi Iran, beberapa anggota parlemen mendesak untuk pembubaran mereka sejak mereka takut akan adanya usaha kudeta. Bagaimanapun juga, mereka tidak dibubarkan dan masih tetap kuat seperti sebelumnya.
Pada tahun 1990an, ada sebuah sindiran operasi militer di Teheran dimana pasukan angkatan udara diminta untuk memegang semua pusat militer dan politik di ibukota. Meskipun perlawanan sengit disiapkan oleh pasukan keamanan yang menjaga pusat-pusat itu, “Pasukan Hantu” yang kuat itu dapat menduduki ibukota dalam dua jam. Sejak saat itu, pasukan baret hijau dikenal dengan “Powerful Ghosts” (Hantu yang Kuat).
Sebelum pengiriman pasukan baru-baru ini, Brigade 65 tidak turut serta dalam operasi luar negeri sejak perang dengan Iraq, seperti yang diketahui secara resmi. Namun, terdapat laporan yang belum dikonfirmasi mengindikasikan bahwa anggota dari brigade ini melakukan misi pengintaian di Iraq, Pakistan dan Afghanistan.
Sementara IRGC telah mendapat kekuasaan untuk memberikan dukungan pada pasukan Suriah sejak pecahnya perang Suriah, pasukan itu selama dua tahun terakhir telah mengambil langkah-langkah pencegahan dalam pertempuran dengan ISIS yang bertujuan untuk menetralisir kemungkinan serangan ke Teheran.
Tahun lalu, komandan pasukan darat, Brigadir Jenderal Ahmad Reza Pourdastan, menyebut operasi yang melibatkan pengiriman pasukan ke perbatasan Iran-Iraq dan serangan artileri melewati perbatasan. Dia juga mengatakan bahwa “sebuah unit tanggap respon yang mendapat pelatihan khusus penembak jitu telah dibentuk selama beberapa bulan terakhir.”
Sebagai tambahan, peralatan militer canggih telah dikirim kepada pasukan tersebut untuk mempersiapkan mereka melawan ancaman apapun.
Iran mengklasifikan ukuran brigade itu mencapai 6.000 hingga 7.000 pasukan. Sehingga, kemungkinan sekitar 100 hingga 200 pasukan Brigade 65 telah dikirim ke Suriah.
Berita pengiriman tersebut sangat ditutup-tutupi oleh situs berita Iran. Memang, hanya beberapa hari setelah pengiriman itu, laporan empat anggota Brigade 65 yang tewas di Aleppo mengejutkan publik. Pourdastan dengan cepat menjelaskan situasi tersebut pada pers, “Terjadi sebuah serangan yang dilakukan beberapa ribu pasukan takfiri [Salafi] dan pasukan dari Jabha al-Nusrah di selatan Aleppo … empat anggota tercinta dari pasukan darat [Iran] menjadi martir. Dalam konfrontasi ini, sejumlah tank dan personel bersenjata yang dibawa kelompok teroris al-Nusrah telah dihancurkan dan juga 200 teroris telah terbunuh,” begitu pernyataannya.
Berdasarkan laporan tersebut, terlihat sepertinya pasukan Iran menjadi target dari serangan kejutan.
Baca juga:
Menyusul gelombang reaksi yang intens atas kematian dari empat tentara penyerang Iran, komandan pasukan Mayor Jenderal Ataollah Salehi mengatakan bahwa pasukan biasa tidak mempunyai tanggung jawab memberikan jasa penasihat pada Suriah, dan terdapat sebuah organisasi di Iran yang melakukan langkah-langkah yang berhubungan dengan itu.
Salehi mengatakan bahwa beberapa sukarelawan telah dikirim ke Suriah dibawah tanggung jawab dari organisasi tersebut dan mungkin terdapat beberapa anggota dari Brigade 65diantara mereka. Dia menambahkan bahwa dikarenakan aturan ketat tentara, sepertinya sangat tidak mungkin anggotanya akan memasuki Suriah atas keinginan mereka sendiri dan bahwa mereka mungkin melakukan itu di bawah perintah dari staff jenderal pasukan bersenjata. Pernyataan itu menyampaikan ketikdakpuasan Salehi atas kehadiran dari pasukan bersenjata di Suriah.
Perang Suriah siap memasuki babak baru dan fase yang semakin serius pada bulan-bulan yang akan datang. Sementara Rusia sedang mengurangi kehadiran militernya di Suriah, Iran sedang mencoba meningkatkannya dengan mengirimkan pasukan khusus mereka sendiri.
Mempertimbangkan sejumlah kecil pasukan Iran yang telah dikirim, ini mungkin tidak menjadi pengiriman yang penting dari sudut pandang militer. Namun, dengan jelas menunjukkan bahwa Iran bertekad untuk tidak membiarkan keseimbangan kekuatan di Suriah terganggu.
Dalam beberapa bulan terakhir, Iran telah berpartisipasi dalam negosiasi damai PBB, dengan jelas menunjukkan bahwa mereka tidak berkeinginan untuk menyerah pada rival regional mereka, seperti Turki dan Arab Saudi, setelah lima tahun mendapati tentara mereka terluka dan terbunuh serta menghabiskan miliaran dolar. Jadi sangat mungkin bahwa jika pemerintah Suriah mendapat ancaman yang semakin serius, bahkan lebih banyak pasukan tentara akan dikirimkan ke Suriah bersama dengan IRGC.*
Abbas Qaidaari. Penulis adalah analis kebijakan pertahanan dan strategi keamanan. Tulisan dimuat di laman al-monitor, Kamis, (28/04/2016) diterjemahkan Nashirul Haq AR. Twitter: @abbasqaidaari
Rep: Nashirul Haq AR
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Pengundian pusingan kedua di Iran


Seorang penduduk membuang undi di pusat pengundian di bandar Robat Karim, semalam. - Foto AFP
TEHERAN - IRAN. Penduduk Iran menunaikan tanggungjawab mereka untuk keluar mengundi dalam Pilihan Raya Parlimen pusingan kedua, semalam.
Menteri Dalam Negeri, Abdolreza Rahmani Fazli berkata, pengundi akan memilih 68 ahli Parlimen di kawasan calon gagal memperoleh 25 peratus undi sebelum ini.
Sekutu kelompok tengah dan sederhana Presiden Hassan Rowhani dilaporkan meraih kemenangan besar besar dalam pengundian pertama pada 26 Februari lalu, namun mereka gagal untuk memperoleh majoriti, sekali gus memberi peluang kepada sekutu Pemimpin Agung, Ayatollah Ali Khamenei untuk menguasai Parlimen ketika ini. - Reuters

Letupan di Iraq, 17 maut


Pasukan keselamatan Iraq bersama kakitangan kecemasan memeriksa tapak pengeboman di Jadida, yang diserang beberapa hari sebelum letupan semalam. - FOTO: AFP
BAGHDAD - IRAQ. Sekurang-kurangnya 17 maut dan 35 lagi cedera selepas sebuah bom kereta menyasarkan kumpulan Syiah meletup berhampiran ibu negara, Iraq, semalam.
Menurut sumber keselamatan, serangan berlaku di kawasan kejiranan Nahrawan pada waktu pagi ketika penduduk sedang menuju ke utara Kadhimiya untuk menghadiri majlis memperingati ulang tahun ketujuh kematian syahid Imam Musa ibn Jafar al-Kazim.
"Angka kematian dijangka meningkat kerana beberapa mangsa cedera kini berada dalam keadaan kritikal," katanya dipetik Press TV.
Sehingga kini, tiada individu atau kumpulan mengaku bertanggungjawab mendalangi serangan berkenaan.
Kelmarin, beberapa orang awam terbunuh dalam serangan berasingan di seluruh negara termasuk seorang pegawai polis yang ditembak mati lelaki bersenjata tidak dikenali di bandar Tarmiyah, terletak kira-kira 50 kilometer di utara Baghdad.

Sekutu Rouhani dijangka menang pilihan raya Iran


TEHERAN – Reformasi dan ahli politik sederhana yang bersekutu dengan Presiden Iran, Hassan Rouhani memenangi kerusi dalam pusingan kedua pilihan raya umum di Iran sekali gus membuka pintu kepada mereka untuk mengawal badan perundangan.
Keputusan tidak rasmi menyebut daripada 68 kerusi dipertandingkan, antara 33 kerusi memihak kepada gerakan pembaharuan pro-Rouhani, manakala konservatif memperoleh 21 kerusi.
Undian kedua untuk melengkapkan 290 kerusi Parlimen baharu itu berlangsung kelmarin kerana pemilihan awal pada 26 ­Februari lalu gagal menghasilkan pemenang untuk mengisi 68 kerusi.
Ia mungkin memberi 128 daripada 290 kerusi Parlimen kepada pihak reformasi, manakala jumlah kerusi selebihnya itu milik calon bebas.
Malah, ia akan menjadi undi besar untuk membawa kepada keyakinan Hassan yang pernah memenangi kemenangan pada pilihan raya tahun 2013 dan seterusnya memeterai perjanjian bersejarah dengan kuasa-kuasa dunia berhubung sekatan program nuklear Teheran.
Hakikatnya, ia mungkin boleh membuka haluan kepada perubahan sosial dan kebudayaan selepas pertempuran diplomatik yang berlaku pada satu era terhadap program itu menyebabkan Iran terasing.
Bagaimanapun, pengundian pusingan kedua telah dilanjutkan kelmarin membabitkan hampir satu perempat daripada kerusi parlimen.
Sebuah agensi berita pihak konservatif, Tasnim berkata, sekutu Hassan mungkin akan memenangi 35 kerusi di pusingan kedua memandangkan tiada calon di 68 kawasan pilihan raya itu memperoleh undi minimum 25 peratus yang diperlukan dalam pusingan pertama.
Reformasi Iran menggalakkan pelaburan ­asing, menyokong pemulihan hubungan diplomatik dan mencari perubahan sosial serta sekatan politik yang rendah.
Mereka memperoleh keuntungan daripada pilihan raya yang diadakan pada Februari lalu selepas Hassan memeterai perjanjian nuklear dengan kuasa-kuasa dunia.
Hampir 17 juta penduduk layak mengundi kelmarin manakala, pengundian dilakukan di 21 wilayah. – AFP


Artikel Penuh: http://www.kosmo.com.my/kosmo/content.asp?y=2016&dt=0501&pub=Kosmo&sec=Dunia&pg=du_03.htm#ixzz47UJ1IjSJ 
Hakcipta terpelihara 

33 maut letupan bom di selatan Iraq


najaf
NAJAF 2 MEI - Keadaan lokasi serangan bom yang berlaku di bandar Samawa hari ini. - GAMBAR TWITTER METE SOHTAGLU
NAJAF 1 Mei - Seramai 33 orang terbunuh dan lebih 50 lagi cedera dalam dua kejadian letupan bom di bandar Samawa, selatan Iraq, hari ini.
Menurut seorang pegawai kanan polis, dua bom kereta meletup di bandar tersebut dengan letupan pertama berlaku pada tengah hari dekat sebuah stesen bas.
Lima minit kemudian letupan kedua berlaku kira-kira 400 meter daripada tempat kejadian pertama. - AFP
- See more at: http://www.utusan.com.my/berita/luar-negara/33-maut-letupan-bom-di-selatan-iraq-1.304217#sthash.c4CZfD2W.dpuf

Penunjuk perasaan pecah masuk Parlimen Iraq


sebahagian pengikut Moqtada al-Sadr memecah masuk bangunan Parlimen
Sebahagian pengikut Moqtada al-Sadr memecah masuk bangunan Parlimen selepas menceroboh Zon Hijau di tengah Banghdad, kelmarin. REUTERS
BAGHDAD 1 Mei – Beribu-ribu penunjuk perasaan yang rata-rata­nya pengikut ulama Syiah, Moqtada al-Sadr, memecah masuk Zon Hijau dan bangunan Parlimen semalam, mencetuskan huru-hara namun tidak mengakibatkan sebarang kecederaan.
Moqtada bulan lalu mengeluarkan kenyataan mengutuk keras jenayah rasuah ketika sidang akhbar di Najaf, selain memberi amaran pengikutnya akan menyerang bangunan Parlimen.
Dalam kejadian itu, penunjuk perasaan melaungkan slogan mengagungkan pemimpin mereka sambil menyatakan mahu menghapuskan segala jenayah rasuah melibatkan ahli politik di negara ini.
“Kamu tidak akan kekal di sini! Ini adalah hari terakhir kamu di Zon Hijau (Parlimen),” kata seorang penunjuk perasaan itu.
Zon Hijau adalah kawasan seluas 10 kilometer persegi di daerah Karkh, tengah Baghdad yang dikawal ketat kerana menempatkan Istana Presiden, pejabat Perdana Menteri dan beberapa kedutaan termasuk Kedutaan Amerika Syarikat dan Britain.
Keganasan bermula apabila penunjuk perasaan meruntuhkan kawat berduri di sebatang jalan menuju Zon Hijau sebelum cuba menghalang beberapa anggota Parlimen yang panik dan mahu melarikan dari lokasi berkenaan.
Penunjuk perasaan turut mero­sakkan beberapa kenderaan dipercayai milik anggota Parlimen sebelum mereka kemudian berundur meninggalkan Parlimen dan meneruskan bantahan di Dataran Ihtifalat di luar Zon Hijau.
Walaupun anggota keselamatan berada di Zon Hijau, mereka tidak mengambil sebarang tindakan ke atas penunjuk perasaan.
Enam jam selepas kejadian tersebut, Perdana Menteri, Hai­der al-Abadi berkata, situasi di Baghdad berada dalam keadaan terkawal dan menggesa penunjuk perasaan supaya berundur.
Dalam perkembangan sama, pegawai Kementerian Dalam Ne­geri memaklumkan, pintu masuk utama ke Baghdad ditutup sementara waktu, dan langkah-langkah telah diambil untuk melindungi bank pusat dan lapangan terbang.
Katanya, pasukan keselamatan telah mengambil langkah berjaga-jaga kerana puluhan ribu pengikut setia Syiah akan berkampung di Baghdad untuk menghadiri satu perhimpunan tahunan. – AFP
- See more at: http://www.utusan.com.my/berita/luar-negara/penunjuk-perasaan-pecah-masuk-parlimen-iraq-1.304599#sthash.8yJxfhP1.dpuf