Tuesday, 24 November 2015

DIALOG SYI’AH & KRISTEN




Seorang aktifis syi'ah dengan semangatnya mengajak seorang aktifis Kristen untuk masuk syi'ah (walaupun agak mustahil mereka mendakwahi agama lain), maka terjadilah dialog berikut:

SYI'AH : Kalian kaum Kristen mengklaim bahwa Kristus (Al-Masih) disalib demi menebus dosa warisan karena Nabi Adam memakan buah terlarang, sehingga manusia dikeluarkan dari surga. Padahal Allah Ta'ala telah berfirman :

وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

“Seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain..” (QS. Al An'aam 164)

KRISTEN : Tahukah kalian bahwa kalian lebih parah lagi, kalian menyiksa diri dengan memukul-mukul tubuh kalian dan anak-anak kalian dengan rantai dan pisau, sampai darah bercucuran, sungguh perbuatan menakutkan dan menjijikkan.

Kalian melakukannya untuk menebus kesalahan kalian dulu, yang telah menghinakan Husein, dan tidak membelanya...

Lantas, apa bedanya ?



SYI'AH : Tetapi kalian terlalu ghuluw (ekstrimis), kalian mengangkat Isa Kristus (Al-Masih) sebagai anak Tuhan dan satu dari tiga tuhan (Trinitas) !

KRISTEN :Bukankah kalian juga demikian? Kalian ghuluw terhadap Husein, dan imam-imam ahlul bait lainnya, kalian mengklaim bahwa sebelum dunia diciptakan mereka berbentuk cahaya, mereka juga mengetahui semua apa yang telah, sedang, dan akan terjadi.

Kalian klaim bahwa mereka mengetahui kapan mereka wafat, dan mereka wafat sesuai dengan kemauan mereka sendiri !



Musa bin Ja'far (alaihissalaam) lalu berkata, "Apa pun yang Dia (al-Sindi) telah katakan tentang tempat dan hal-hal yang lainnya sebagaimana ia katakan. Bagaimanapun, Hai orang-orang, saya memberi tahu kalian bahwa saya akan diracuni tujuh kali esok hari saya akan berubah warna hijau dan esoknya. Saya akan mati. "Orang-orang mengatakan," Saya melihat al-Sindi bin Shahik. Dia menggigil ketakutan dan gemetar seperti daun cabang pohon palem. " (Al-Kafi oleh Kulaini H 671, Ch. 47, h 2)


SYI'AH: Yang penting, saya sarankan agar kau jangan menyembah Al-Masih, jangan namai anak-anakmu dengan Abdul Masih (hamba kristus), sebab Kristus (Al-Masih) sendiri adalah hamba Allah.

KRISTEN: Alaah.. jangan sok menasehati, bukankah kalian juga mengklaim bahwa Ali berkata: Aku adalah wajah Allah, aku di samping Allah, aku yang awal dan yang akhir, kalian juga menjuluki anak-anak kalian Abdul Hasan dan Abdul Husein, padahal mereka juga adalah hamba Allah.


(Lihat kitab berjudul 
“Abu Hurayra” yang berisi hujatan dan fitnah terhadap Sahabat Nabi Abu Hurairah karangan ulamak syiah yang bernama Abdul Hussein Syarafiddin)

SYI'AH: Tetapi kelian mengharap dan memohon dari Kristus (Al-Masih) dan kalian tidak memohon kepada Allah, kalian berdo'a kepada mereka, dan kalian mengkultuskan para uskup dan pendeta.

KRISTEN: Ehh…, bukankah kalian juga memohon kepada selain Allah , kalian memohon : Yaa Ali.. ! Yaa Husein.., aku tidak tahu kapan kalian memohon kepada Tuhan kalian.

Kalian tawaf di kuburan imam-imam dan memohon kepada mereka, kalian mengklaim: barang siapa menziarahi makam Husein di hari arafah, maka ia mendapat pahala sejuta kali haji bersama al-Qa'im. Kalian juga mengklaim bahwa makam Ali selalu diziarahi oleh Allah bersama Malaikat, begitu juga para nabi !!



SYI'AH : Kalian terlalu melebih-lebihkan Kristus (Al-Masih) hingga kalian menyembahnya.

KRISTEN: Sama saja, kalian juga terlalu melebih-lebihkan Husein dan imam-imam lainnya, kalian mengangkat mereka melebihi derajat para nabi, dan mereka berada di posisi yang tidak akan bisa dicapai oleh siapapun, baik Malikat, tidak pula rasul. Mereka ma'shum dari lupa dan dosa, mereka mengetahui semua yang di langit dan di bumi.

Jadi, Kristus (Al-Masih) kami sama saja dengan Al-Husein kalian !


"Sesungguhnya di antara hal yang termasuk paling urgen dalam madzhab kami, bahwasanya imam-imam kami memiliki kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh para malaikat yang didekatkan dan tidak pula para nabi yang diutus.... Telah diriwayatkan dari mereka 'alaihimus salam (imam-imam Syiah) "Bagi kami keadaan-keadaan tertentu bersama Allah yang tidak dapat dicapai oleh para malaikat yang didekatkan, demikian pula para nabi yang diutus." (al-Hukumah al-Islamiyah hal. 52, oleh Imam Khomeini).


[lihat 
Islamic Government (al-Hukumah al-Islamiyah) by Imam Khomeini, Section 3: The Form of Islamic Government]

SYI'AH: Tapi kalian melewati batas, dengan meyakini bahwa mencintai Kristus (Al-Masih) dan mengimaninya saja, cukup untuk menyelmatkan kalian dari neraka.

KRISTEN: Kalian juga begitu, hanya dengan mencintai ahlul bait, cukup sebagai kaffarat dan penyelamat. Dosa tidak akan membahayakan siapapun yang mencintai ahlul bait. Kalian juga mengatakan : Cinta ahlul bait akan menggugurkan semua dosa, sebagai mana gugurnya dedaunan pepohonan. Cinta Ali adalah kebaikan, yang tidak mempengaruhinya dosa apapun!

SYI'AH (dengan marah): Tapi, kitab kalian telah diubah, ditambahi dan dikurangi !

KRISTEN: Nah.., kalian para syi'ah mengklaim bahwa Al-Qur'an kalian telah diubah, sahabat Nabi telah menambah dan menguranginya. Teks aslinya hanya ada pada imam Mahdi yang bersembunyi di Sirdab saat umurnya lima tahun, dengan demikian menurut kalian semua muslim sesat sejak 1400 tahun silam !

SYI'AH: Sudahlah, yang penting kau mau masuk Islam, dengan loyal kepada ahlul bait dan menjadi syi'ah sejati ?!

KRISTEN: Menurutku bukanlah ini Islam yang dianut oleh mayoritas manusia, besar-kecil, tua-muda, pria-wanita dari bangsaku (Muallaf Eropa). Karena tidak ada keistimewaan pada agama kalian (syi'ah)..

kontradiksi agama kalian jauh lebih banyak dari pada agama kami. Masih ada ndak sekte lain yang kalian tawarkan ?!?

Syiah Agama Binaan Yahudi dan Majusi


BY HANZHALAH WA-QAASHIRAAT

Seandainya dikatakan bahwa yang menghancurkan masjid ini adalah orang-orang Zionis Yahudi, mungkin seluruh dunia akan segera mengecam mereka.

Namun ketika dikatakan bahwa yang menghancurkan masjid ini adalah orang-orang Syiah, seluruh dunia akan bertanya..

"Bukankah Syiah itu Islam, untuk apa mereka menghancurkan masjid dan membunuhi orang-orang Islam????"

Kenyataannya, Syiah TIDAK AKAN PERNAH menjadi bagian dari kaum Muslimin, karena Syiah BUKAN Islam. Mereka membunuhi kaum Muslimin di Iraq, Iran, Yaman dan kini mereka membunuhi kami di Syria.

Inilah agama Syiah, agama yang berasal dari binaan Yahudi dan Majusi.

"Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat."
(QS: Al-Baqarah Ayat: 114)

syiah sesat, kesaksian mantan ulama syiah





Dikatakan sesat karena ajaran mereka bukan didasarkan pada dalil yang dimiliki oleh kaum Sunni melainkan dari kitab atau tokoh mereka sendiri. Banyak kajian tentang kesesatannya, namun tetap saja pengikut syiah terus berkilah. Fakta tentang permusuhan kepada sahabat terutama Abu Bakar Ra, Umar Ra, dan lainnya dibantah dengan dusta, karena memang ajaran syiah ini adalah ajaran dusta. Begitu juga keraguan terhadap Al-Qur’an, lalu hadits-hsdits buatan yang tak dikenal di masa Rasulullah SAW bertebaran menjadi dalil kema’shuman Imam, kedatangan Imam tersembunyi, serta kebebasan nikah kontrak walau dengan istri orang lain. Karena kedustaan inilah yang menyebabkan banyak tokoh syiah yang keluar dan menemukan jalan benar. Seperti Abu Al Fadhl Al-Burqui yang ilmunya lebih tinggi dari Khomeini, Musa Al-Musawi sahabat dekat Khomeini, Ahmad Al-Kisrawi, juga sahabat sekaligus asisten pribadi Khomeini Sayyid Husain Al-Musawi. Yang terakhir ini membuat buku “lillahi tsumma lit Tarikh”  atau dalam edisi Indonesia berjudul “mengapa saya keluar dari syiah” sebagai pertanggungan jawab kepada Allah dan sejarah atas penyesalan ikut ajaran tersebut.
Beberapa contoh kedustaan syiah yang disebut Sayyid Husein Al-Musawi dalam buku yang dibuat sebelum terbunuhnya itu antara lain:
1.      Pengikut syiah dalam menangkis hujatan kesesatannya, mencoba mengingkari keberadaan penyusup Yahudi Abdullah bin Saba yang mengkultuskan bahkan menuhankan Ali bin Abi Thalib. Tokoh Abdullah bin Saba terbukti benar adanya, sebagaimana ditulis dalam buku-buku syiah seperti “Makrifat Akhbar Ar Rijal” karya Al-Kisyi, “Al-Bihar An-Nu’maniyah” karya sayid Ni’matullah al-Jazairi”. Ada 15 kitab-kitab lain yang disebutkan Husein Al-Musawi. Abdullah bin Saba adalah orang Yahudi yang menjadi biang keladi penyesatan teologis ajaran syiah.
2.      Al Qur’an yang ada sekarang telah berubah / tahrif, dikurangi dan ditambah (Kitab Ushulul Kaafi: hal. 670). Sementara An-Nuri Ath Thabrasi telah menghimpun semua dalil dan bukti atas terjadinya perubahan besar-besaran didalam Al-Qur’an dalam kitabnya “Fashlu al-Khithab fi Itsbati Tahrif Kitabi Rabbi Al-Arbab”. Lebih dari seribu riwayat yang menyatakan telah terjadi perubahan. Dia menghimpun perkataan ahli fikih dan ulama syiah yang menyatakan secara terus terang bahwa Al-Qur’an yang ada ditangan manusia telah berubah dari aslinya. Salah satu contoh ayat Al Qur’an yang dikurangi dari aslinya (versi mereka, red.) yaitu ayat Al Qur’an An Nisa’: 47, menurut versi Syi’ah berbunyi: “Ya ayyuhalladziina uutul kitaaba aaminuu bimaa nazzalnaa fie ‘Aliyyin nuuron mubiinan”. (Kitab Fashlul Khitab: hal. 180). Menurut Syi’ah, Al Qur’an yang dibawa Jibril kepada Nabi Muhammad ada 17 ribu ayat, namun yang tersisa sekarang hanya 6660 ayat. (Kitab Ushulul Kaafi: hal. 671).
3.      Kesesatan dan permusuhan syiah sangat nyata, hingga menyatakan bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan, Muawiyah, Aisyah, Hafshah, Hindun, dan Ummul Hakam adalah makhluk yang paling jelek di muka bumi, mereka ini adalah musuh-musuh Allah. Siapa yang tidak memusuhi mereka, maka tidaklah sempurna imannya kepada Allah, Rasul-Nya dan Imam-Imam Syi’ah. (Kitab Haqqul Yaqin: hal. 519, oleh Muhammad Baqir Al Majlisi). Bahkan Khomeini menulis do’a khusus yang wajib dibaca setelah shalat shubuh setiap hari, “ya Allah laknatlah dua berhala Quraisy {Abu Bakar dan Umar} dua jibti dan dua thagutnya serta anak-anak keduanya {Aisyah dan Hafshah}. Al-Kulaini meriwayatkan “Sesungguhnya manusia adalah anak-anak zina, mereka anak-anak pelacur kecuali para pengikut kami {kaum syiah}” {Ar Raudhah, 8/135}, fakta sejarah, Baghdad dihancurkan oleh Hulagu Khan atas pengkhianatan 2 mentri Abbasiyah yang berfaham syiah yaitu Ath Thusi dan Muhammad bin Al-Qami.
4.      Masalah nikah mut’ah yang di legalkan menurut Musawi adalah praktek buruk dimana wanita dihinakan sehina-hinanya oleh pengikut syiah. Wanita menjadi pemuas nafsu atas nama agama dibalik tabir mut’ah. Yang menolak mut’ah adalah kafir. Nikah Mut’ah menjadi halal dan sangat dianjurkan sekali, bahkan menurut doktrin Syi’ah orang yang melakukan kawin mut’ah 4 kali derajatnya lebih tinggi dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. (Kitab Tafsir Minhajush Shadiqin, hal. 356, oleh Mullah Fathullah Kassani). Barangsiapa melakukan mut’ah dengan wanita mukminah maka seolah-olah dia berkunjung ke ka’bah sebanyak 70 kali.{Man la yahduruhu Al-Faqih 3/366}. Imam Kulaini membolehkan mut’ah dengan anak usia 10 tahun. {Furu Al-Kafi 5/463}. Dengan alasan mut’ah tokoh-tokoh syiah menfatwakan bolehnya para tamu untuk meminjam istri tuan rumah jika ia melihat istrinya itu cukup cantik dan istri boleh dipinjam sampai ia kembali dari rumah yang ia kunjunginya, belum lagi kebolehan “mendatangi” istri dari duburnya {Al-Istibshar 3/243}. Sodomi kepada anak laki-laki juga boleh asal laki-laki itu “belum berjenggot”.
Belum lagi penghinaan-penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW. Dan Ali bin Abi Thalib dengan menyatakan Rasulullah tidur satu selimut dengan Ali, dan Aisyah {Al-Majlisi, Bihar Al-Anwar 40/2}.Menurut Ja’far Shadiq, Ali melihat dua paha wanita yang dituduh berzina {Bihar Al-Anwar 4/303},Fatimah menyatakan bahwa Ali suaminya sebagai “laki-laki gendut, panjang tangan, besar dua mata, bahunya lunak seperti bahu unta, gigi berseri tidak memiliki harta” {Tafsir Al-Qumi 2/336}, dan masih banyak lagi hinaan syiah yang dinukil Sayyid Husein Al-Musawi dari rujukan kitab syiah kepada Nabi, Ali, serta Ahlul Baitnya.
Maka pantaslah jika tokoh besar Sayyid Husein Al-Musawi keluar dari syiah untuk kembali ke jalan yang lurus Ahlus Sunnah. Semoga Allah jadikan gugurnya sebagai Syahid di jalan Allah.

Mengapa Syiah Wajib Ditolak

Kertas kerja “Mengapa Syiah Wajib Ditolak” telah dibentang dan dikulliahkan di Masjid Negeri, Negeri Perlis.  Penulis merasakan bahawa masyarakat Islam Perlis amat perihatin tentang isu Syiah. Mereka juga sangat mengharapkan ketampilan para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah yang dapat menerangkan kepada umat Islam tentang bahaya dan sesatnya akidah serta fahaman Syiah.  Penulis merasa bertanggungjawab memenuhi permintaan mereka setelah diminta memberi kulliah tentang kegiatan Syiah yang sudah lama menyebarkan fahaman mereka di seluruh Malaysia dan kini mula ingin menyebarkannya pula di Negeri Perlis.
Semoga Jabatan Agama Islam Perlis, para iman, ahli jawatan kuasa Masjid Negeri Perlis dan para ulama Perlis sentiasa berusaha menghidupkan kegiatan dakwah Islamiyah dalam usaha menghalang, menggagalkan dan membasmi kegiatan dakwah Syiah di Perlis.  Mudah-mudahan segala usaha suci mereka mendapat keredhaan dan dirahmati Allah Subhanahu wa-Ta’ala.  Amin!! 
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اِنَّ الْحَمْدَ للهِ ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتِعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ سُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ، وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .  أمَّا بَعْده:

          Baru-baru ini penulis telah diminta agar memberi penjelasan kepada umat Islam Perlis tentang bahayanya fahaman Syiah terhadap akidah Islamiyah.  Isu ini disuarakan kerana terdapatnya beberapa orang aktivis Syiah yang cuba menyebarkan fahaman Syiah di Negeri Perlis.  Oleh kerana fahaman Syiah ini benar-benar sesat, menyesatkan dan boleh memecah-belahkan umat Islam, maka dengan ‘inayah Allah penulis dengan rasa tanggungjawab dan hati yang ikhlas insya-Allah akan berusaha sedaya mungkin bekerjasama dengan para ulama dan masyarakat Islam untuk sama-sama menyekat dan membenteras fahaman sesat ini supaya tidak tersebar di kalangan umat Islam yang berakidah Ahli Sunnah wal-Jamaah walau di mana saja mereka berada.
            Agar hakikat kesesatan akidah Syiah dapat diketahui dan difahami oleh masyarakat Islam Ahli Sunnah wal-Jamaah, maka penulis menyiapkan kertas kerja tentang penyelewengan dan bahayanya fahaman serta akidah Syiah.  Kertas kerja yang ringkas ini akan dibentangkan sebagai siri kulliah akidah terutamanya di beberapa masjid di sekitar Perlis, Pulau Pinang dan Selangor insya-Allah.
            Semoga Allah membantu kita sekalian menghapuskan fahaman yang sesat ini dari terus merebak  dan sentiasa memelihara akidah Ahli Sunnah wal-Jamaah, kedaulatan agama, negara, kerajaan, masyarakat dan perpaduan Ummah Islamiyah.  Amin Ya Rabbal 'Alamin.

Definisi (شِيْعَة) Syiah Dan Tasyayyu' (تَشَيُّع)
            Dari segi etimologis (bahasa), Syiah bererti "Para Pengikut, Penyokong, Pendukung atau Pembela".  Contohnya:  Syiah Ali, bermaksud satu kelompok yang berupa "Penyokong, pendokong atau pembela Ali".  Menurut Terminologi (istilah) syara, Syiah bermaksud "Sesiapa yang mengangkat kepimpinan Ali radiallahu 'anhu dan anak-anaknya".  Dan apabila disebut si Fulan itu Syiah maka dia menganut atau berfahaman Syiah.
            Tasyayyu' (التشيع) pula menurut keterangan Syeikh al-Mufid ialah[1]:
التشيع لغة : هوالاتباع على وجه التدين والولاء للمتبوع علىالاخلاص.

"Tasyayyu' menurut etimologi adalah sikap mengikut yang didasari agama dan mengangkat orang yang diikuti dengan ikhlas".[2]
            Pada zaman pemerintahan Khalifah Abu Bakar, 'Umar dan 'Uthman kalimah syiah dalam erti faktual suatu kelompok atau fahaman belum wujud dan belum terbentuk.  Tetapi kelompok ini lahir ketika terjadinya pertikaian dan peperangan antara Syiah (penyokong) Ali dan Syiah Muawiyah.  Hanya kelompok Syiah di waktu itu kesemua mereka berfahaman Ahli Sunnah wal-Jamaah. 

Abdullah Bin Saba' (Si Munafik)
            Abdulah bin Saba' adalah seorang pendita Yahudi dari Yaman.  Berpura-pura masuk Islam (secara nifak) di zaman Khalifah 'Uthman bin Affan radiallahu 'anhu.  Dialah pereka ajaran Syiah yang ekstrem yang menjadi punca bersemaraknya perpecahan dalam kalangan masyarakat Islam terutama dalam kelompok Syiah itu sendiri.  Abdullah bin Saba' pernah berkata yang ditujukan kepada Khalifah Ali radiallahu 'anhu:  "Engkaulah Allah".[3]  Maka Ali mengisytiharkan bunuh terhadap Abdullah bin Saba' tetapi ditegah oleh Ibn Abbas.  Penyokong Ali membuangnya ke Madain (Ibu Negeri Iran lama).
            Abdullah bin Saba' orang pertama mengkafirkan Abu Bakar, 'Umar dan 'Uthman dan tidak mengiktiraf kekhalifahan kecuali hanya dari kalangan Ahli Bait".[4]  Seorang ulama Syiah Muhammad Husin al-Zain pernah memperkatakan tentang Abdullah bin Saba':
"Abdullah bin Saba' mengeluarkan qaul (yang sesat), mengajarkan fahaman yang ghalu (keterlaluan)..... dan perbuatannya sangat melampaui batas".[5]
            Saad bin Abdullah al-Qumy seorang ulama, pemimpin serta ahli hukum Syiah yang lahir pada 229H mengakui wujudnya Abdullah bin Saba'.  Beliau menyebut beberapa nama orang yang berkonspirasi yang digelar sebagai Saba'iyah.  Menurut beliau lagi bahawa komplot Saba'iyah adalah firqah pertama dalam Islam yang mengeluarkan perkatan-perkataan yang ghalu (keterlaluan).
Saad bin Abdullah al-Qumy ulama besar Syiah yang masyhur ini telah memastikan bahawa Abdullah bin Saba' adalah orang yang mengeluarkan perkataan dan menampakkan dirinya mengecam dan menentang Abu Bakar, 'Umar dan 'Uthman radiallahu anhum serta tidak mengiktiraf kekhalifahan mereka.[6]
            Pegangan Syiah Imamiyah yang ada sekarang adalah berasaskan ideologi dan doktrin sesat Abdullah bin Saba'. Fahaman ini disampaikan (dipelihara) dalam bentuk riwayat hadis yang dinasabkan kepada keluarga Nabi (Ahli Bait) dengan penuh kebohongan tetapi diterima oleh mereka yang jahil.[7]

Syiah Mengkafirkan Para Sahabat
            Agama Syiah mengkafirkan para pembesar sahabat secara umum. Pengkafiran ini boleh dilihat dalam kitab-kitab besar Syiah yang ditulis oleh ulama mereka, contohnya ialah wasiat para ulama mereka:
1.     Abu Ja'far berkata:
"Semua manusia (kaum muslimin Ahli Sunnah wal-Jamaah) menjadi Ahli Jahiliyah (kafir/murtad setelah kewafatan Rasulullah) kecuali empat orang, Ali, Miqdad, Salman dan Abu Dzar".[8]
2.     Al-Kulaini[9] mensifatkan Abu Bakar, 'Umar dan 'Uthman telah terkeluar dari kalangan orang yang beriman (murtad/kafir) lantaran tidak melantik Ali sebagai khalifah setelah Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam wafat.[10] Malah al-Kulaini mengkafirkan seluruh penduduk Mekkah dan Madinah. Menurut Kulaini: 
"Penduduk Madinah lebih buruk dari penduduk Mekkah dan penduduk Mekkah telah kufur kepada Allah dengan terang-terang".[11]
         Al-Kulaini juga menetapkan dalam kitabnya al-Kafi:
"Sesiapa yang tidak beriman kepada Imam Dua Belas maka dia adalah kafir walaupun dia keturunan Ali atau Fatimah".[12]
3.     Al-Majlisi  seorang ulama besar Syiah menegaskan:
“Bahawa mereka (Abu Bakar, 'Umar dan 'Uthman) adalah pencuri yang khianat dan murtad, keluar dari agama, semoga Allah melaknat mereka dan semua orang yang mengikut mereka dalam kejahatan mereka, sama ada orang dahulu atau orang-orang kemudian".[13]

Budak Ali bin Husin berkata:

"Saya pernah bertanya kepada Ali bin Husin tentang Abu Bakar dan 'Umar. Maka dia menjawab:  Keduanya kafir dan sesiapa yang mencintainya juga kafir".[14]
4.     Abu Basir (ulama Syiah) menegaskan:
"Sesungguhnya penduduk Mekkah telah kufur kepada Allah secara terang-terang dan penduduk Madinah lebih buruk dari penduduk Mekkah, lebih buruk tujuh puluh kali dari penduduk Mekkah".[15]
            Demikianlah kenyataan, fatwa, kepercayaan, pandangan dan tuduhan jahat para ulama Syiah terhadap Ahli Sunnah wal-Jamaah sama ada terhadap ulama atau orang awamnya.

Al-Quran Menurut Syiah
            Menurut kepercayaan penganut Syiah al-Quran yang ada sekarang sudah diubah-suai, ditambah dan dikurangi oleh para sahabat dan tidak asli.  Al-Quran yang asli berada di tangan Ali yang kemudian diwariskan kepada putera-puteranya.  Menurut Syiah lagi bahawa pada masa sekarang ini al-Quran yang asli berada di tangan Imam Mahadi al-Muntazar.
Al-Kusyi pula berkata:
"Tidak sedikitpun isi kandungan di dalam al-Quran (yang digunakan oleh Ahli Sunnah wal-Jamaah sekarang,  Pent.) yang boleh kita jadikan pegangan".[16]
            Menurut para ulama Syiah:
“Seseorang itu akan dianggap kafir dan masuk neraka kerana tidak mengikut Imam Dua Belas Syiah atau kafir terhadap Syiah”.
Syiah banyak merubah ayat-ayat al-Quran dan tafsirannya.  Contohnya ayat:
مَاسَلَكَكُمْ فِى سَقَرٍ
"Mengapa kamu masuk neraka?"
             (Menurut penafsiran ulama Syiah):
  قَالُوْا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْن
"Orang-orang kafir menjawab, Kami tidak solat".
            Ulama Syiah merubah tafsirannya yang sebenarnya kepada maksud dan tafsiran:
"Kami (masuk neraka kerana) tidak mengikut Imam (Syiah)".[17]
            Begitulah kekarutan, khurafat dan batilnya kepercayaan penganut syiah yang telah disepakati oleh para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah sebagai akidah yang sesat lagi menyesatkan.

Hadis Menurut Syiah
            Syiah menolak hadis-hadis sahih yang diriwayatkan oleh muhaddis Ahli Sunnah wal Jamaah, seperti Imam Bukhari, Muslim, Turmizi dan yang lainnya. Syiah hanya menerima hadis yang diriwayatkan oleh perawi Ahli Bait.  Menurut Syiah hadis bukan semata-mata dari Nabi tetapi dari Imam Dua Belas yang maksum.  Nilai perkataan imam yang maksum senilai dengan wahyu dan sabda nabi.[18]

Syiah Mengkafirkan Ahli Sunnah Wal-Jamaah
1.     Syiah menggelar golongan Ahli Sunnah wal-Jamaah sebagai Nasibi(نَاصِبِي) "Penipu, Pembangkang atau penentang Ali bin Abi Talib" kerana mereka mendahulukan Abu Bakar, 'Umar dan 'Uthman sebagai khalifah.
         Begitu juga ulama Syiah mengkafirkan pengikut mazhab Syafie, Hambali, Maliki dan Hanafi kerana mereka digolongkan sebagai an-Nasibi.  Menurut ulama Syiah lagi:
"Dalam kalangan ulama (Ahli Sunnah) dari Malik, Abi Hanifah, Syafie, Ahmad dan Bukhari semua mereka kafir dan terlaknat".[19]
         Keyakinan Syiah yang sesat ini diambil dari keterangan ulama mereka Syeikh Husin al-'Usfur ad-Darazi al-Bahrani.  Beliau menegaskan:
"Riwayat-riwayat para imam menyebutkan bahawa an-Nasibi (si Kafir) adalah mereka yang digelar Ahli Sunnah wal-Jamaah".[20]
2.     Syiah menganggap seluruh Ahli Sunnah wal-Jamaah kafir yang setara dengan orang-orang kafir musyrikin dan najis.  Berkata Abu Qasim al-Musawi al-Khuri (ulama besar Syiah):
         "Najis ada sepuluh jenis, yang ke sepuluh adalah orang kafir, iaitu yang tidak beragama atau yang beragama bukan Islam atau beragama Islam menolak yang datang dari Islam.  Dalam hal ini tidak ada perbezaan antara murtad, kafir asli, kafir zimmi, Khawarij yang ghalu atau an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah)".[21]
         Berkata Ruhullah al-Musawi (ulama Syiah):
         "Sesungguhnya an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah) dan Khawarij dilaknati Allah Subhanahu wa-Ta'ala.  Keduanya adalah najis tanpa diragukan lagi".[22]
3.     Syiah mengkafirkan Ahli Sunnah kerana tidak mengiktiraf (tidak mengimani) Imam Dua Belas.  Berkata Yusuf al-Bahrani (ulama Syiah):
         "Tidak ada perbezaan antara orang yang kafir kepada Allah Subhanahu wa-Ta'ala, RasulNya dan yang kafir kepada para Imam Dua Belas".[23] 

         Dan berkata Kamil Sulaiman (ulama Syiah): 
         "Sesiapa yang meyakini para Imam Dua Belas maka dia adalah orang yang beriman dan sesiapa yang mengingkarinya dia adalah kafir".[24]
Syiah menghalalkan darah dan harta Ahli Sunnah.  Berkata Muhammad bin Ali Babawaihi al-Qummi, dia meriwayatkan dari Daud bin Farqad:
         "Aku bertanya kepada Abu Abdullah 'alaihis salam:  Bagaimana pendapat engkau membunuh an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah)?  Dia menjawab: Halal darahnya akan tetapi lebih selamat bila engkau sanggup menimpakan dengan tembok atau menenggelamkan (mati lemas) ke dalam air supaya tidak ada buktinya.  Aku bertanya lagi:  Bagaimana dengan hartanya?  Dia menjawab:  Rampas sahaja semampu mungkin".[25]
         Berkata Abu Ja'far ath-Thusi (ulama Syiah): 
        
         "Berkata Abu Abdullah 'alaihis salam (Imam as-Sadiq):  Ambillah harta an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah) dari jalan apapun kamu mendapatkannya dan berikan kepada kami seperlima".[26]

         Yusuf al-Bahrani berkata (ulama Syiah):
         "Dari dahulu sehinggalah sekarang, bahawa an-Nasibi kafir dan najis secara hukum, dibolehkan mengambil segala harta benda mereka bahkan dihalalkan membunuhnya".[27]
            Begitulah sikap golongan Syiah terhadap Ahli Sunnah wal-Jamaah yang mereka gelar sebagai an-Nasibi.  Mereka bukan sahaja memusuhi Ahli Sunnah malah mengistiharkan bunuh dan rampas harta benda Ahli Sunnah wal-Jamaah. Dan rampasan tersebut dianggap oleh mereka sebagai ganimah (harta rampasan perang).

Agama Syiah Mewajibkan Taqiyah
            Taqiyah (dissimulation) adalah satu prinsip yang diyakini oleh syiah Imamiyah.  Berpegang kepada taqiyah adalah wajib bagi setiap penganut Syiah. Ianya adalah satu sikap yang menyembunyikan kebenaran yang (kononnya) jika didedahkan akan membawa kemusnahan diri atau agama seseorang Syiah.[28] Pada mulanya taqiyah dilakukan kerana takut terjadinya penindasan dari pihak pemerintah.  Tetapi selanjutnya diamalkan untuk menipu, berbohong dan seterusnya untuk menghalalkan sesuatu yang haram atau sebaliknya.
Orang-orang Syiah akan menyamar sebagai Ahli Sunnah secara taqiyyah untuk memerangkap Ahli Sunnah yang kurang faham akan agama mereka. Tujuannya supaya dapat dirosakkan fahaman, akidah dan amal ibadahnya.
Abu Ja'far berkata:
"Taqiyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku.  Dan tidak beragama bagi sesiapa yang tidak bertaqiyah".[29]

Abdullah berkata:

"Wahai Abu 'Umar!  Sesungguhnya sembilan persepuluh dari agama terletak pada taqiyyah, tidak beragama bagi sesiapa yang tidak bertaqiyyah pada segala sesuatu, kecuali arak dan menyapu sepatu".[30]

Diriwayatkan dari Ali bin Muhammad:

"Wahai Daud!  Sekiranya kamu mengatakan bahawa orang yang meninggalkan taqiyah sama seperti orang yang meninggalkan solat, maka sesungguhnya betullah kata-katamu itu".[31]
          Sebenarnya taqiyyah dalam agama Syiah adalah perbuatan nifak, pembuat nifak adalah seorang munafik.  Tidak ada hadis sahih yang menghalalkan taqiyah sebagaimana yang dilakukan oleh golongan Syiah.  Si Munafik pula dilaknat Allah dan ditempat di neraka yang paling bawah (kerak neraka), maka Ahli Sunnah wal-Jamaah diharamkan dari bertaqiyah.

Syariat Syiah Yang Menyesatkan
            Syariat Syiah yang sebenar amat bertentangan dengan syariat Ahli Sunnah wal-Jamaah.  Syiah digolongkan oleh Imam Syahrastani di dalam bukunya “Al-Milal Wan-Nihal” dan al-Bagdadi dalam bukunya “Al-Faraq Bain al-Firaq” segabai golongan 72 yang ke neraka, kerana penganut Syiah selain mengkafirkan Amirul Mukminin Abu Bakar, ‘Umar al-Khatab, Uthman radiallahu anhum dan para sahabat yang lain, mereka juga lebih meyakini syariat Daud 'alaihis salam daripada syariat Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam.  Abu Ja'far berkata:
"Apabila Imam ghaib (Imam Mahdi) datang, ia akan memerintah dengan hukum syariat Daud (bukan syariat Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa-sallam, pent)".[32]


Nikah Mut'ah
            Syiah menghalalkan nikah mut'ah seberapa banyak, beberapa kali yang diinginkan dan yang semampu.  Mereka menghalalkan nikah mut'ah sehingga ke Hari Kiamat.  Sebaliknya Ahli Sunnah wal-Jamaah telah mengharamkan nikah mut'ah sehinggalah ke Hari Kiamat.  Antara hadis (hadis-hadis sahih) dari Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam yang mengharamkan nikah mut’ah ialah:
عَنْ عَلِيِّ اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ نِكَاحِ الْمُتْعَةِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ لُحُوْمِ الْحُمُرِ اْلاَهْلِيَّةِ.

"Dari Ali (Bin Abi Talib):  Sesungguhnya Nabi Sallallahu 'alaihi wa-sallam telah melarang nikah mut'ah pada hari peperangan Khaibar dan baginda mengharamkan makan daging keldai kampung".[33]

اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى يَوْمِ الْفَتْحِ عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ.

"Sesungguhnya Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam melarang nikah mut'ah pada hari futuh (pembukaan) Mekkah".[34]
            Antara tanda-tanda penganut agama Syiah ialah menghalalkan nikah mut’ah walaupun telah diharamkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam. Golongan Syiah telah menyelewengkan hadis-hadis sahih yang mengharamkan mut’ah.  Oleh itu, orang-orang beriman yang mengakui sebagai Ahli Sunnah wal-Jamaah perlu membenteras fahaman dan ajaran Syiah kerana Syiah adalah golongan yang sesat lagi menyesatkan.

RUKUN IMAN AGAMA SYIAH
            Rukun iman Agama Syiah berbeza dengan rukum iman Ahli Sunnah wal-Jamaah, kerana rukun iman Syiah hanya lima perkara, iaitu:
1.     Beriman kepada keEsaan Allah    -             (التوحيد)
2.     Beriman kepada Keadilan         -                  (العدل)
3.     Beriman kepada Kenabian      -                    (النبوة)
4.     Beriman kepada Imam          -                       (الامانة)
5.     Beriman kepada Hari Kiamat    -                 (المعاه)
            Imam Malik secara terang-terangan telah mengkafirkan golongan Syiah kerana golongan ini membenci para sahabat Nabi dan sesiapa yang membenci sahabat Nabi adalah kafir.  Hal ini telah disepakati oleh sebahagian besar ulama.[35]
Imam Malik rahimahullah juga pernah menjelaskan tentang Syiah:
"Mereka (Syiah) jangan diajak berbual dan jangan pula diberi perhatian, mereka adalah golongan pembohong".[36]

Imam Syafie rahimahullah pula berwasiat:

"Belum pernah aku saksikan di kalangan manapun manusia yang begitu berani menjadi pendusta dan sebagai saksi-saksi palsu seperti golongan Syiah".[37]
             Begitulah fatwa-fatwa para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah terhadap golongan Syiah.  Tidak terdapat seorangpun dari kalangan mereka yang menerima Syiah sama ada fahaman atau akidah mereka.  Oleh itu, berwaspadalah terhadap gerakan, doktrin dan di’ayah Siyah, kerana pada hakikatnya mereka adalah pembohong yang hanya mengajak kepada kesesatan, pecah-belah dan kehancuran umat Islam.  Wallahua’lam.  Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.


[1].  Syeikh al-Mufid adalah seorang ulama Syiah abad (414 H/ 1022M).
[2].  Lihat:  Awaailul Maqalat. hlm. 2.  Syeikh al-Mufid. 
[3].  Lihat:  Rijal al-Kusyi. Hlm. 106-108.  (Kitab ini "Rijal al-Kusyi") adalah kitab tertua menjadi rujukan dan pegangan golongan Syiah.
[4].  Lihat:  Usul Mazhabi asy-Syiah al-Imamiyah al-Ithna 'Asyariah.  (1/74).
[5].  Lihat:  الشيعة فى التاريخ  Hlm. 213.  Muhammad Husin al-Zain.
[6].  Lihat:  Usul Mazhabi asy-Syiah al-Imamiyah al-Ithna 'Asariyah. (1/74).
[7].  Lihat:  Usul Mazhabi asy-Syiah al-Imamiyah al-Ithan 'Asariyah. (1/77).
[8].  Lihat:  Tafsir as-Safi.  (1/389).
[9].  Al-Kulaini, nama penuhnya Muhammad bin Yakub al-Kulaini. Meninggal dunia pada 328H
[10]. Lihat:  Usul al-Kafi. (1/488).
[11]. Ibid.  (2/409).
[12]. Lihat:  Al-Kafi. (1/372-374).
[13]. Lihat: بحار الانوار.  (4/385). Muhammad Baqir al-Majlisi
[14]. Ibid.   (2/216).
[15]. Ibid.   (2/410).
[16]. Lihat:  As-Safi. (1/33).
[17]. Lihat:  Usul Kafi.  (1/438).
[18]. Keyakinan bahawa para imam maksum menjadikan semua perkataan yang keluar dari mereka adalah sahih.  Maka tidak diperlukan menyandarkan sanadnya kepada Rasulullah s.a.w sebagaimana di kalangan Ahlu Sunnah wal-Jamaah.  Lihat:  Tarikh al-Imamiyah. Hlm. 140.  Abdullah Faiyad.
[19]. Lihat:  Asy-Syiah wa as-Sunnah.  Hlm.  7.  Ihsan Ilahi Zahiri.
[20]. Lihat:  Al-Masail al-Khurasaniyah. Hlm. 147.
[21]. Lihat:  Manhaj Shalihin. (1/116).
[22]. Lihat:  Tahrirul al-Wasilah. (1/116).   Cetakan Beirut.
[23]. Lihat:  Al-Hadiq an-Nadirah. (28/153).   Cetakan Beirut.
[24]  Lihat:  Kitabul Khalash Fi Zilli al-Qaimmul Mahdi.  Hlm.  44.  Cetakan Beirut, Lebnon.
[25]. Lihat:  'Ilal asy-Syar'i.  Hlm. 44.  Cetakan Beirut.
[26]. Lihat:  Tahzibul Ahkam.  (1V/122)   Cetakan Tehran.
[27]. Lihat:  Al-Hadiq an-Nadirah Fi Ahkam al-Atraf at-Tahirah.  (X11/323-324).
[28]. Lihat:  Al-Qummi, terjemahan Asaf .A Fyze.  Hlm. 71.
[29]. Lihat:   Usul Min Kafi.  (2/219).
[30]. Ibid.
[31]. Lihat:  Wasail asy-Syiah (X1/466).  Cetakan Tehran.
[32]. Lihat:  Tarikh Ma Ba'da Zuhur.  Hlm. 728.  Cetakan Beirut.
[33]. H/R Bukhari (5/78 dan 6/129).   Muslim (9/189-190). 
[34]. H/R Muslim.  (4/133).
[35]. Lihat:  Sunnah dan Syiah, Mungkinkah Dipertemukan?  Hlm. 57.  Dr. Abdullah Muhammad Gharib.  Edisi pertama,  Surabaya. 1984.
[36]. Ibid.  Hlm.  57.
[37]. Ibid.  hlm.  57.